FAWAID HADITS-HADITS AL-ARBA’IN AN-NAWAWIYAH
HADITS KE TIGABELAS (13)
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
A. Biografi singkat Rowi Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu
Beliau memiliki nama Anas bin Malik bin Nadhr bin Dhamdham bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najjar Al-Anshari Al-Khazraji. Beliau radhiyallahu ‘anhu lahir di tahun ke-10 sebelum hijrah di Yatsrib. Beliau termasuk di antara sahabat-sahabat Nabi yang masuk Islam di usia masih muda.
Beliau adalah yang turut melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sejak usia 10 tahun. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
لمَّا قدِم النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم المدينةَ أخذت أمُّ سُليمٍ رضِي اللهُ عنها بيدي فقالت يا رسولَ اللهِ هذا أنسٌ غلامٌ لبيبٌ كاتبٌ يخدُمُك فقَبِلني رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم
“Tatkala Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha datang kepada beliau dengan membawaku. Kemudian mengatakan, ‘Ya Rasulullah, ini Anas putraku, seorang anak yang cerdas dan siap melayanimu.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciumku.” (HR. Al-Bazzar no. 6597)
Beliau diberi kunyah oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Hamzah. Anas terus menyertai Nabi sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dan ridho kepada Anas.
Dahulu Anas adalah orang yang suka sholat dan memperlama sholatnya sampai-sampai kedua kakinya bengkak dan mengeluarkan darah. Dan diantara kebiasaan beliau adalah setelah beliau mengkhatamkan Alqur’an, beliau mengumpulkan anak keturunannya dan mendoakan kebaikan bagi mereka.
Beliau pernah ikut perang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebanyak 8 peperangan, beliau tinggal di Madinah dan sempat menyaksikan penaklukan-penklukan Islam atas bnagsa lainnya kemudian menetap di Bashrah dan wafat disana pada tahun 93 hijriyah dan beliau merupakan sahabat yang paling terakhir wafat di Bashrah.
Beliau meriwayatkan hadits dari Nabi sebanyak 2286 hadits sehingga termasuk sahabat yang paling bnayak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendoakan baginya dengan keberkahan pada rizki dan anak keturunannya. Maka Allah-pun mengabulkan hal itu sehingga ketika beliau wafat yang mengiringi jenazah beliau dari anak keturunnanya sebanyak 98 orang. Adapun dalam masalah rizki, kebun Anas selalu terkena air hujan (walaupun tidak musimnya) dan hal ini tidak terjadi kepada kebun-kebun selain milik beliau.
B. Kedudukan hadits
Hadits ini termasuk qoidah dari qoidah-qoidah agama. Hal itu dikarenakan hadits ini menerangkan kumpulan adab-adab kebaikan. Dan yang dimaksudkan dari hadits adalah adanya sifat menyamakan diantara manusia dimana hal itu dapat mencapai pada suatu sifat yang lain yaitu mahabbah (saling mencintai) dan mendatangkan persatuan diantara manusia serta keadaan yang tertata dengan baik.
C. Fawaid hadits
- Sesungguhnya iman itu bertingkat-tingkat. Ada yang sempurna ada juga yang kurang. Dan inilah madzhab Ahlus Sunnah bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang.
- Hadits ini mendorong agar mencintai kebaikan bagi sesama mukmin.
- Didalam hadits ini terdapat larangan keras untuk mencintai atau menyukai bagi sesama mukmin yang lain dari apa-apa yang dia sendiri tidak menyukai untuk dirinya sendiri. Karena sifat ini dapat mengurangi keimanan bahkan sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meniadakannya. Hal ini menunjukkan pentingnya mencintai atau menyukai bagi sesama mukmin lainnya sebagaimana dia juga menyukai untuk dirinya.
- Hadits ini menunjukkan kuatnya ikatan dan hubungan sesama mukmin.
- Barangsiapa yang memili sifat ini (menyukai kebaikan bagi sesama mukmin sebagaimana dia juga suka jika kebaikan itu untuk dirinya), maka tidak mungkin dia akan melakukan perbuatan melampaui batas terhadap mukmin lainnya baik dari sisi harta, kehormatan atau keluarganya. Karena diapun tidak suka jika mukmin lainnya berbuat melampui batas kepadanya.
- Sesungguhnya umat Islam hendaknya menjadi seperti tangan yang satu dan satu hati (bersatu padu – tidak bercerai berai). Hal ini diambil dari kesempurnaan iman dengan cara menyukai kebaikan bagi sesama mukmin sebagaimana dia juga suka jika kebaikan itu untuk dirinya.
Di terjemahkan oleh Ahmad Imron bin Muhadi Al Fanghony hafidzohullahu ta’ala.
Rujukan : Kitab Al-Fawaid Adz-dzahabiyah min Ar-ba’in An-Nawawiyah karya Syaikh Abu Abdillah Hammud bin Abdillah Al Mathor dan Syaikh Abu Anas Ali bin Husain Abu Lauz.
