Ngaji bertahun-tahun = Perubahan Adab dan Akhlak?
!قَالَ وَكِيْعٌ : قَالَتْ أُمُّ سُفْيَانَ الثَّوْرِي لِسُفْيَانَ : يَا بُنَيَّ اُطْلُبِ العِلْمَ وَأَنَا أَكْفِيْكَ بِمَغْزَلِيْ
وَقَالَتْ لَهُ : يَا بُنَيَّ إِذَا كَتَبْتَ عَشْرَةَ أَحْرُفٍ فَانْظُرْ هَلْ تَرَى نَفْسُكَ زِيَادَةً فِي مَشْيِكَ وَحِلْمِكَ وَوِقَارِكَ؟ فَإِنْ لَمْ يَزِدْكَ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَضُرُّكَ وَلَا يَنْفَعُكَ
(Imam) Waki’ berkata: “Ibu Sufyan ats-Tsauri berkata pada Sufyan: “Wahai Ananda, tuntutlah ilmu dan aku akan memberikan bekal kepadamu untuk belajar dengan hasil upah dari memintal benang.”
Ibunya berkata lagi, “ Ananda, jika engkau telah menulis (belajar) sepuluh huruf, maka lihat dirimu, apakah sesudah menulis sepuluh huruf itu ada peningkatan pada dirimu, kesantunan dan kewibawaanmu ? Jika tidak ada peningkatan, maka ketahuilah bahwa ilmu tersebut tidak merugikan dan tidak memberimu manfaat (alias tidak berguna)”. (Imam Abu al-Farj Abdurrahman bin al-Jauzi, Shifah al-Shafwah, Kairo: Dar al-Hadits, 2009, juz 2, h. 110)
(Ditulis oleh Ahmad Imron bin Muhadi Al Fanghony hafidzahumallahu ta’ala)
