Saat Aku Memaafkan & Tidak Dengki Kepada Siapapun, Jiwaku Bebas Dari Kegelisahan

Tampakkan wajah berseri kepada orang yang aku benci

 

Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata :

لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أَحْقِدْ عَلَى أَحَدٍ
أَرَحْتُ نَفْسِيْ مِنْ هَمِّ الْعَدَاوَاتِ

“Tatkala aku memaafkan dan tidak mendengki kepada siapa pun,
Aku bisa mengistirahatkan jiwaku dari kegelisahan permusuhan.

ِإنِّي أُحَيي عَدُوِّي عنْدَ رُؤْيَتِه
ِلأدفعَ الشَّرَّ عنّي بالتحيّاتِ

Aku ucapkan salam kepada lawanku tatkala aku melihatnya,
Tuk menolak kejelekan dariku dengan ucapan salam.

ِوأُظْهِرُ الْبِشرَ لِلإِنْسَانِ أُبْغِضهُ
كأنما قدْ حَشى قَلْبي مَحَبَّاتِ

Aku tampakkan wajah berseri kepada orang yang aku benci,
Seolah dia telah melingkupi hatiku dengan kecintaan.

النَّاسُ داءٌ وَدَواءُ النَّاسِ قُرْبُهمُ
وفي اعتزالهمُ قطعُ المودَّاتِ

Manusia adalah penyakit dan obatnya adalah mendekati mereka,
Mengasingkan diri dari mereka adalah memutus kasih sayang yang ada pada mereka.”

 

أدب الدنيا والدين (صـ١٨٢) – Adabud Dunya Wad Diin hal. 182)

By Redaksi