وَقِيْلَ إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ بْنَ عَبْدِ المَلِكِ بَكَى فِي مَرَضِهِ الَّذِيْ مَاتَ فِيْهِ، فَقِيْلَ لَهُ : مَا يُبْكِيْكَ؟
قَالَ : قِلَّةُ الزَّادِ، وَبُعْدُ السَّفَرِ، صُعُوْدُ عَقَبَةٍ لَا أَدْرِي هَبْطَتِيْ مِنْهَا إِلَى جَنَّةٍ أَمْ إِلَى نَارٍ
(أَنْسُ المَسْجُوْنِ وَرَاحَةُ المَحْزُوْنِ، ص : ٨٣)
“Disebutkan bahwa Ibrahim bin Abdul Malik pernah menangis pada saat sakit yang membawa kepada ajalnya, lalu dia ditanya : “Apa yang menyebabkanmu menangis?”
Ibrahim menjawab : “Karena bekal yang sedikit, jauhnya perjalanan, dan pendakian yang sulit, sedangkan aku tidak mengetahui, apakah tempat singgahku ke surga atau neraka.” (Ansul Masjun wa Rahatul Mahzun hal. 83)
Ditulis oleh Ahmad Imron bin Muhadi Al Fanghony hafidzahullahu ta’ala
