: قَالَ الإِمَامُ ابْنُ القَيِّمِ رَحِمَهُ اللّٰهُ
وَمِنَ العَجَبِ أنَّ الإنْسانَ يَهُونُ عَلَيْهِ التَّحَفُّظُ والِاحْتِرازُ مِن أكْلِ الحَرامِ والظُّلْمِ والزِّنى والسَّرِقَةِ وشُرْبِ الخَمْرِ، ومِنَ النَّظَرِ المُحَرَّمِ وغَيْرِ ذَلِكَ، ويَصْعُبُ عَلَيْهِ التَّحَفُّظُ مِن حَرَكَةِ لِسانِهِ، حَتّى تَرى الرَّجُلَ يُشارُ إلَيْهِ بِالدِّينِ والزُّهْدِ والعِبادَةِ، وهو يَتَكَلَّمُ بِالكَلِماتِ مِن سَخَطِ اللَّهِ لا يُلْقِي لَها بالًا، يَنْزِلُ بِالكَلِمَةِ الواحِدَةِ مِنها أبْعَدَ مِمّا بَيْنَ المَشْرِقِ والمَغْرِبِ
(الداء والدواء : 363)
Berkata Imam Ibnul Qoyyim rohimahullahu ta’ala : “Termasuk yang aneh adalah ketika seseorang mudah untuk menjaga dirinya dan membatasi dirinya dari makan yang haram, dholim, zina, mencuri, minum khomer, melihat perkara haram dan yang lainnya namun sulit bagi dirinya untuk menjaga pergerakan lisannya. Sehingga ada seseorang yang terlihat baik agamanya, zuhud bahkan ahli ibadah namun sayangnya ia mengucapkan suatu ucapan yang menimbulkan murkanya Allah yang tidak dia perhatikan (dianggapnya biasa). Turun murkanya Allah kepadanya dengan sebab satu kalimat yang menjadikan dia jatuh terlempar ke Neraka sejauh antara bagian Timur dan bagian Barat”. (Ad-Daa’ Wad Dawaa’ : 363)
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata juga :
وكَمْ تَرى مِن رَجُلٍ مُتَوَرِّعٍ عَنِ الفَواحِشِ والظُّلْمِ، ولِسانُهُ يَفْرِي في أعْراضِ الأحْياءِ والأمْواتِ، ولا يُبالِي ما يَقُولُ
“Betapa banyak engkau melihat orang-orang yang menjaga dirinya dari perbuatan keji dan dzalim, namun lisannya senantisa memfitnah kehormatan orang-orang yang masih hidup bahkan orang-orang yang telah meninggal dunia lalu ia tidak merasa bersalah dengan perkatannya itu.” (Ad-Daau Wa Ad-Dawa : 169)
Ditulis oleh Ahmad Imron bin Muhadi Al Fanghony hafidzahullahu ta’ala
