RANGKUMAN PELAJARAN KESEBELAS – KEKUFURAN DAN MACAM-MACAMNYA

 

  1. Kekufuran itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu ; kekufuran yang besar dan kekufuran ynag kecil.
  2. Kufur akbar (kekufuran besar) yang mengeluarkan pelakunya dari agama. Kufur ashgar (kekufuran kecil) yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama.
  3. Kekufuran (kekafiran) adalah lawan dari keimanan, dan yang dimaksud ialah mengingkari adanya agama yang benar. Dinamakan kufur (kafir) karena didalam kekufuran ini terkandung bentuk menutupi kebenaran dibarengi pengingkaran terhadap kebenaran tersebut.
  4. Nifaq adalah menampakkan Islam dan menyembunyikan kekufuran.
  5. Lima macam kekufuan dan dalilnya :

A. Kufur karena mendustakan. Dalil yang mendasari dan menjelaskan akan hal tersebut ialah firman Allah tabaraka wa ta’ala dalam sebuah firman -Nya:

وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاۤءَهٗ ۗ اَلَيْسَ فِيْ جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْكٰفِرِيْنَ [ العنكبوت: 68]

“Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang haik tatkala yang haik itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?  (Al-‘Ankabuut/29: 68)

B. Kekufuran karena enggan (menolak) disertai kesombongan. Dan hal itu, telah dijelaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman -Nya:

 وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ  [ البقرة: 34]

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan sombong dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. (Al-Baqarah/2: 34)

C. Kufur karena keraguan dan dhon (persangkaan).
Yakni pelakunya merasa ragu terhadap perkara yang dibawa oleh para Rasul serta mengira kalau mereka itu bukan berada dijalan yang benar. Lebih jelasnya, sebagaimana kisahnya dua orang yang disitir oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman -Nya, dimana salah seorang dari keduanya mengatakan:

وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَةٗ  [ الكهف: 36]

“Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang”. (Al-Kahfi/18: 36)

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla kisahkan kembali jawaban temannya tadi yang mengatakan:

قَالَ لَهُۥ صَاحِبُهُۥ وَهُوَ يُحَاوِرُهُۥٓ أَكَفَرۡتَ بِٱلَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ سَوَّىٰكَ رَجُلٗا  [ الكهف: 37]

“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?”. (Al-Kahfi/18: 37)

D. Kufur I’radh (karena berpaling). Allah ta’ala melalui firman-Nya menjelaskan :

 وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَمَّآ أُنذِرُواْ مُعۡرِضُونَ  [ الأحقاف: 3]

“Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka”. (Al-Ahqaf/46: 3)

E. Kufur Nifaq (kemunafikan), adapun yang dimaksud ialah munafik I’tiqodi (keyakinan). Sebagaimana digambarkan oleh Allah ta’ala dengan jelas sekali melalui firman -Nya:

إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ ١ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٢ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ  [ المنافقون: 1-3]

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul -Nya dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti”. (Al-Munafiquun/63: 1-3)

 

 

Ditulis oleh : Ustadz Ahmad Imron Al Fanghony Hafidzahullah

Rujukan : “Buku Mapel Tahuid Kelas VI MSU Al Ukhuwah Sukoharjo”

By Redaksi