: قَالَ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ البَدْرُ حَفِظَهُ اللّٰهُ
مَا أَجَلُّهَا مِنْ نِعْمَةٍ أَنْ يُوَفِّقَ المُسْلِمُ لِمُجَالَسَةِ عَالِمٍ عَرَفَ رَبَّهُ، وَعَرَفَ نَبِيَّهُ ، وَعَرَفَ أَوْامِرَ اللّٰهِ وَحُدُوْدَهُ، وَ مَیَّزَ بَیْنَ مَا يُحِبُّهُ اللّٰهُ وَيَرْضَاهُ وَبَيْنَ مَا يَكْرَهُهُ وَيَأْبَاهُ، فَهُوَ يَعْمَلُ بِأَمْرِ اللّٰهِ فِيْمَا يَأْتِي وَيَذَرُ، فَكَمْ لَهُ مِنَ الأَثَرِ المُبَارَكِ عَلَى جُلَسَائِهِ
(التُّحَفُ بِالمَأْثُوْرِ عَنِ السَّلَفِ ص ٣٤)
Berkata Syaikh Abdurrozzaq Al Badr hafidzohullahu ta’ala : “Diantara nikmat yang besar adalah ketika seorang Muslim diberi taufiq oleh Allah untuk bermajlis dengan seorang yang berilmu yang mengetahui Robbnya, Nabinya, mengetahui perintah-perintah Allah dan batasan-batasan-Nya, dapat membedakan perkara yang Allah cintai dan ridhoi, menjelaskan perkara yang Allah benci dan beramal sesuai dengan perintah Allah dalam perkara yang Allah bawa dan Allah biarkan. Maka betapa banyaknya pengaruh kebaikan yang diberkahi yang dia dapatkan dari duduk-duduk bersama mereka.”. (At-Tuhaf bilma’tsuur ‘Anis Salaf hal : 34)
Ditulis oleh Ahmad Imron bin Muhadi Al Fanghony hafidzahullahu ta’ala
