PALESTINA BUMI YANG DIBERKAHI

Materi Kajian Umum Di Masjid Miftahul Jannah Solo Baru

 

Kenapa Palestina itu bumi yang diberkahi??

 

  • Karena firman Allah ta’ala

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Al-Israa’ : 1)

 

  • Di Palestina terdapat kiblat pertama kaum Muslimin.

Kisah Pemindahan Arah Kiblat Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Shalat Dhuhur di Bani Salimah

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Makkah, beliau shalat menghadap ke Baitul Maqdis, bahkan sampai di Madinah pun, beliau masih menghadapnya lebih dari sepuluh bulan. Namun, beliau terus menerus memohon dan berharap agar kiblat dipindahkan ke Ka’bah yang merupakan kiblatnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengunjungi ibu dari Basyar bin Barra’ bin Ma’rur dari Bani Salimah. Lalu Ummu Basyar pun menjamu beliau. Kemudian tibalah waktu shalat Zhuhur. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun shalat bersama para sahabat di masjid. Setelah mengerjakan shalat dua rakaat, turunlah Jibril mengisyaratkan untuk shalat menghadap ke Baitullah dan Jibril pun shalat menghadap ke sana. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memutar posisinya menghadap Ka’bah, bertukarlah posisi wanita pada kaum lelaki dan posisi kaum laki-laki pada posisi wanita. Oleh karena itu, masjid itu dinamai dengan masjid qiblatain (dua kiblat). Kemudian keluarlah ‘Ibad bin Basyar ia juga termasuk dalam jamaah shalat tersebut ia melewati Bani Haritsah dari kaum Anshar yang sedang rukuk melaksanakan shalat ‘Ashar. ‘Ibad bin Basyar pun berkata, “Aku bersumpah demi Allah, bahwa aku telah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke Baitullah. Kemudian mereka pun memutar arah kiblat mereka.”

Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seseorang datang kepada kami, ketika kami shalat pada Bani ‘Abdul Asy-hal. Ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah diperintahkan untuk menghadap ke Ka’bah. Lalu imam kami pun berputar ke Ka’bah dan kami pun mengikutinya.”

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Pada saat orang-orang berada di Quba’ kala shalat Shubuh. Lalu datanglah seseorang kepada mereka. Ia berkata, ‘Sesungguhnya telah diturunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan telah diperintahkan untuk menghadap ke Ka’bah. Kemudian mereka pun menghadap kepadanya. Padahal, sebelumnya mereka menghadap ke arah Syam kemudian berputar ke arah Ka’bah.”

Dari Barra’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pada awal mula tiba di Madinah, kakek dan pamannya juga dari golongan Anshar, bahwasanya mereka pada kesempatan itu shalat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas bulan atau tujuh belas bulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mendambakan untuk menjadikan kiblatnya adalah Ka’bah. Adapun shalat yang pertama kali dilakukan beliau dengan menghadap Ka’bah adalah shalat ‘Ashar, saat itu beliau shalat dengan para sahabatnya. Kemudian keluarlah salah seorang yang ikut dalam jamaah tersebut dan melewati suatu kaum yang sedang ruku’ (shalat) di masjid. Lalu ia berkata, ‘Aku bersaksi demi Allah, aku telah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap Ka’bah. Mereka pun mengalihkan arah kiblat mereka menghadap ke Ka’bah. Sementara kaum Yahudi dan Ahlul Kitab sangat menginginkan sekiranya kaum muslimin menghadap ke Baitul Maqdis. Ketika kaum muslimin menghadap ke Baitullah (Ka’bah), mereka pun mengingkarinya.

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling tepat, shalat yang dikerjakan di Bani Salimah pada saat meninggalnya Basyar bin Barra’ bin Ma’rur adalah shalat Dhuhur. Sedangkan, shalat yang pertama kali dikerjakan di Masjid Nabawi (dengan menghadap Ka’bah) adalah shalat ‘Ashar.” (Fath Al-Baari, 1:97)

 

  • Palestina adalah tempat di isra’kannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tidak ada kesepakatan dari para pakar sejarah tentang waktu kejadian Isra’ Mi’raj. Ada beberapa versi riwayat yang menerangkan tentang waktunya:

  1. Satu tahun sebelum hijrah Nabi ke kota Madinah.
  2. Lima tahun sebelum hijrah.
  3. Satu bulan sebelum hijrah.
  4. Satu tahun satu bulan sebelum hijrah.
  5. Tiga bulan sebelum Nabi Hijrah.
  6. Enam bulan sebelum hijrah.
  7. Pada tahun yang sama saat Nabi diangkat menjadi Nabi. (Lihat: Rakhiqul Makhtum, 1/124)

Demikian bulan kejadiannya: ada yang mengatakan bulan Robi’ul Awwal. Versi lain menyebutkan Dzulqa’dah. Yang lain mengatakan Rajab.

Dari kesemua riwayat, tak ada satupun riwayat yang shohih. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan,

 

لم يقم دليل معلوم لا على شهرها ولا على عشرها ولا على عينها، بل النقول في ذلك منقطعة مختلفة، ليس فيها ما يقطع به

 

Tidak ada dalil yang diketahui menunjukkan bulan kejadian Isra’ Mi’raj. Tidak pula harinya atau tanggalnya secara pasti. Bahkan riwayat-riwayat tentang hal ini semuanya terputus dan berbeda-beda, tidak menunjukkan kepastian waktunya. (Lihat: Ad-dhau’ul Munir ‘alat Tafsir, 3/304)

Riwayat paling shahih dari kesemua riwayat dho’if tersebut adalah, riwayat dari Musa bin ‘Uqbah dari Imam Az-Zuhri, yang menyebutkan terjadinya Isra’ Mi’raj pada bulan Robi’ul Awwal, satu tahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ ke kota Madinah.

Dan peristiwa isra’ mi’raj adalah mukjizat sekaligus kejadian yang menyaring siapakah yang beriman dengan jujur dan siapakah yang tidak jujur dalam imannya.

لما أُسرِيَ بالنبيِّ إلى المسجدِ الأقْصى، أصبح يتحدَّثُ الناسُ بذلك، فارتدَّ ناسٌ ممن كانوا آمنوا به، وصدَّقوه، وسَعَوْا بذلك إلى أبي بكرٍ، فقالوا: هل لك إلى صاحبِك يزعم أنه أُسرِيَ به الليلةَ إلى بيتِ المقدسِ؟ قال: أو قال ذلك؟ قالوا: نعم، قال: لئن كان قال ذلك لقد صدَقَ، قالوا: أو تُصَدِّقُه أنه ذهب الليلةَ إلى بيتِ المقدسِ وجاء قبل أن يُصبِحَ؟ قال: نعم إني لَأُصَدِّقُه فيما هو أبعدُ من ذلك، أُصَدِّقُه بخبرِ السماءِ في غُدُوِّه أو رَوْحِه، فلذلك سُمِّي أبو بكٍر الصِّديقَ

الراوي: عائشة أم المؤمنين • الألباني، السلسلة الصحيحة (٣٠٦) • متواتر

 

  • Dikarenakan Palestina adalah sebagai tempat hijrah bagi Khalil (kesayangan)-Nya Allah yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Mengenai hijrahnya Nabi Ibrahim, terdapat dua pendapat, kota mana yang menjadi tujuan Nabi Ibrahim setelah pergi dari negerinya Irak. (1) Ada yang mengatakan bahwa beliau hijrah ke Mekah dan (2) yang lainnya mengatakan bahwa beliau berpindah ke Syam, ke tanah Jerusalem, Palestina. Dan tidak diragukan lagi, Nabi Ibrahim memang memasuki kedua kota tersebut. Namun kota mana yang terlebih dahulu dikunjungi? Allahu a’lam.

Setidaknya ada tiga ayat yang menerangkan tentang hijrahnya Nabi Ibrahim ‘alaihi ash-shalatu wa as-salam.

 

فَآَمَنَ لَهُ لُوطٌ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 

“Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Ankabut: 26).

Ayat lainnya,

 

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ

 

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (Ash-Shaffat: 99).

Dan firman Allah,

 

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

 

“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”. (Maryam: 48).

Beliau menjauhkan diri dari peribadatan yang mereka lakukan dan juga menjauhkan diri dari tempat tersebut. Selain Nabi Ibrahim ada juga Kalim-Nya (Kalim : Orang yang diajak bercakap) yaitu Nabi Musa ‘alaihissalam, Nabi Yusuf dan lainnya yang berhijrah ke Palestina.

 

  • Dikarenakan Palestina ada masjid Al Aqsha.

Diantara keutamaan Masjid Al Aqsha :

1). Masjid ini adalah masjid kedua yang dibangun dalam sejarah peradaban umat Islam.

 

فَعَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الأَرْضِ أَوَّلُ؟ قَالَ: «الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ» قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الْمَسْجِدُ الأَقْصَى». قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: «أَرْبَعُونَ سَنَةً

[رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ]

 

Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, masjid apa yang pertama kali dibangun di muka bumi ini’? Beliau menjawab, ‘Masjid al-Haram’. Aku kembali bertanya, ‘Kemudian masjid apa setelahnya’? Beliau menjawab, ‘Masjid al-Aqsha’. ‘Berapa tahun jarak keduanya’? tanyaku lagi. Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun’.” [HR. al-Bukhari dan Muslim].

2). Masjid ini adalah masjid yang menempati urutan ketiga dalam keutamaan.

 

فَعَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَذَاكَرْنَا وَنَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ: مَسْجِدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيهِ، وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى، وَلَيُوشِكَنَّ أَنْ لَا يَكُونَ لِلرَّجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ مِنَ الْأَرْضِ حَيْثُ يَرَى مِنْهُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا – أَوْ قَالَ: خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا.

[رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ في الأَوْسَطِ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الشُّعَبِ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ، وَوَافَقَهُ الذَّهَبِيُّ]

 

Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami membahas manakah yang lebih utama antara Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Masjid Nabawi) atau Masjid al-Aqsha. Lalu Rasulullah menanggapi, ‘Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik dibanding empat kali shalat di Masjid al-Aqsha. Masjid al-Aqsha adalah sebaik-baik tempat shalat. Akan ada suatu masa, seseorang tidak memiliki sedikitpun tanah, namun dia melihat bahwa Baitul Maqdis lebih baik baginya dibanding dunia dan seisinya.” [HR. ath-Thabrani, al-Baihaqi, dan al-Hakim. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi].

3). Shalat di Masjid Al Aqsha’ dapat menghapus dosa

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ دَاوُدَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَنَى بَيْتَ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خِلَالًا ثَلَاثَةً: سَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ فَأُوتِيَهُ، وَسَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ فَأُوتِيَهُ، وَسَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حِينَ فَرَغَ مِنْ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ أَنْ لَا يَأْتِيَهُ أَحَدٌ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فِيهِ أَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

[رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وصَحَّحَهُ النَّوَوِيُّ]

 

“Saat Sulaiman bin Dawud ‘alaihimassalam membangun Baitul Maqdis, ia meminta kepada Allah Azza wa Jalla tentang tiga hal: Ia meminta agar ketika memutuskan sesuatu sesuai dengan hukum Allah Azza wa Jalla. Permintaannya dikabulkan. Lalu ia meminta kepada Allah Azza wa Jalla suatu kerajaan yang tidak ada yang dimiliki oleh orang setelahnya. Permintaannya dikabulkan. Kemudian ia meminta kepada Allah Azza wa Jalla ketika selesai dari pembangunan masjid apabila ada orang yang datang ke masjid ini, motivasinya satu yaitu shalat, agar semua kesalahannya dihapuskan hingga ia seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya.” [HR. An-Nasai dan dishahihkan an-Nawawi].

4). Masjid al-Aqsha merupakan tempat isra’ nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tentu ini menunjukkan keutamaan dan keagungannya. Kalau Allah mau, Allah pilih masjid yang lain sebagai tempat isra’ nabi kita. Allah Ta’ala berfirman,

 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Quran Al-Isra: 1]

5). Masjid ini juga pernah menjadi kiblat kaum muslimin.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat pernah shalat menghadap ke arah masjid ini sebelum kemudian diganti oleh Allah menghadap ke Ka’bah di Kota Mekah. Allah Ta’ala berfirman :

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah : 144)

6). Masjid al-Aqsha juga merupakan salah satu masjid yang tidak bisa dimasuki oleh Dajjal.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

 

لَا يَأْتِي أَرْبَعَةَ مَسَاجِدَ: الْكَعْبَةَ، وَمَسْجِدَ الرَّسُولِ، وَالْمَسْجِدَ الْأَقْصَى، وَالطُّورَ

[رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَقَالَ الْهَيْثَمِيُّ: رَوَاهُ أَحْمَدُ وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ]

 

“Dia (Dajjal) tidak mampu memasuki empat masjid: Ka’bah, Masjid Rasul, Masjid al-Aqsha, dan ath-Thur.” [HR. Ahmad].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Hadits ini membawa informasi bahwasanya kekuasaan kenabiaan di Syam akan tetap eksis (hingga kiamat) dan kebaikan akan dikumpulkan di Syam. Penciptaan dan urusan akan kembali menuju Baitul Maqdis dan sekitarnya. Di sana manusia akan dikumpulkan. Dan Islam di akhir zaman akan jaya di negeri Syam.”

7). Masjid al-Aqsha adalah salah satu dari tiga masjid yang seseorang boleh berlelah-letih berusaha untuk bersafar ke sana.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

[رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ]

 

“Tidak boleh bersungguh-sunggu mengadakan perjalanan kecuali menuju ke tiga masjid: Masjid al-Haram, Masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Masjid al-Aqsha. [HR. al-Bukhari dan Muslim].

 

  • Karena Allah telah menjadikanya sebagai tempat turunnya risalah-risalah (kenabian).

Hampir kebanyakan Nabi itu berasal dari Bani Israil. Bahkan yang dari Arab terhitung hanya empat yaitu ;

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sudah pasti nabi kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan keturunan bangsa Arab. Beliau bahkan lahir dari kaum terbaik Bangsa Arab, yakni Kaum Quraisy. Beliau pula lahir dari bani terbaik di antara kaum terbaik, yakni Bani Hasyim.

Kaum Quraisy merupakan bangsa Arab yang paling elit, paling cerdas, paling bagus Bahasa Arab-nya. Mereka lah penguasa kota Makkah, penjaga ka’bah, pengurus jamaah haji, pemimpin perang. Setelah Islam datang, posisi kepemimpinan tak pernah berubah. Rasulullah pula menyebutkan bahwa salah satu syarat pemimpin ialah berasal dari Kaum Quraisy.

Nabi Hud alaihis salam

Beliaulah nabi pertama dari Bangsa Arab. Nabi Hud bahkan telah menggunakan Bahasa Arab, padahal ia hidup sekian abad sebelum masehi. Ia merupakan keturunan Nuh, dari jalur Sam. Lebih tepatnya, Nabi Hud adalah cicit dari Sam bin Nuh.

Nabi Hud berasal dari Kabilah ‘Aad yang tinggal di sebuah negeri bernama Al Ahqaf (kini berada di antara Yaman dan Oman). Kaum tersebut menempati desa Mughiith yang merupakan lembah dari perbukitan Asy Syahar yang memanjang di sepanjang laut. Kabilah ‘Aad bernenek moyang ‘Aad bin ‘Aush bin Sam bin Nuh.

Kaum ‘Ad merupakan bangsa Arab dengan teknologi modern kala itu. Mereka memiliki arsitektur yang megah dengan memahat bukit menjadi bangunan-bangunan tinggi. Sayangnya, mereka sombong dan enggan menyembah Allah. Karena itulah, Nabi Hud di utus di tengah-tengah mereka untuk menunjukkan jalan yang lurus.

Kaum ‘Aad merupakan salah satu kaum Arab yang musnah dan tak ada lagi di masa kini. Pasalnya, mereka mengingkari Allah dan utusan-Nya. Azab berupa awan panas mendatangi mereka selama 8 hari 7 malam hingga mereka semua binasa.

Nabi Shalih alaihis salam

Generasi setelah Nabi Hud, yakni Nabi Shalih. Sang nabi bermukjizat unta ajaib tersebut juga berasal dari Bangsa Arab. Beliau ‘alaihissalam berasal dari Kaum Tsamud. Inilah kaum berteknologi canggih di masa itu, pengganti Kaum ‘Aad. Kaum ini merupakan keturunan Nabi Nuh dari Iram bin Sam bin Nuh.

Kaum Tsamud tinggal di daerah bebatuan antara Hijaz dan Tabuk. Nabi Shalih merupakan pemuda Tsamud yang kemudian diutus untuk mendakwahi kaumnya para penyembah berhala. Namun Nabi Shalih mendapat pertentangan dari kaumnya. Sebagaimana Kaum ‘Aad, Kaum Tsamud pun akhirnya binasa. Suara keras mengguntur dari langit hingga mereka semua tergeletak mati.

Nabi Syu’aib alaihis salam

Adapun nabi keempat yang juga berdarah Arab yakni Nabi Syu’aib. Beliau berasal dari kaum Madyan, yakni orang-orang Arab yang tinggal di sebuah negeri bernama Madyan. Negeri tersebut terletak di daerah Ma’an yang berada di tepian Hijaz dekat dengan laut di ujung Syam (sekarang Suriah, Palestina).

Bangsa Arab dikenal dengan lisannya, atau kaum yang gemar sastra dan berbahasa indah. Nabi Syu’aib merupakan nabi yang fasih, berbobot ucapannya, dan tinggi sastra. Rasulullah bahkan menjuluki Nabi Syu’aib sebagai Khatibul Abiyaa’.

Nabi Syu’aib diutus untuk kaumnya, Madyan. Namun seperti nabi-nabi pendahulunya, Nabi Syu’aib pun mendapat penolakan dari kaumnya. Di ujung dakwah sang nabi, Madyan pun tetap menolak hingga akhirnya mereka semua binasa akibat azab berupa gempa yang mengerikan.

Rasulullah pernah menyebutnya kepada shahabat Abu Dzar Al Ghifary. Beliau berkata kepada sang shahabat, “Ada 4 nabi dari arab, yaitu Hud, Shaleh, Syuaib, dan nabimu ini, wahai Abu Dzar.” (HR. Ibnu Hibban).

Nabi-Nabi yang berasal dari Bani Israil di antaranya Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Ayub, Nabi Zakariya, Nabi Yahya, Nabi Isya’iya, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Ilyas, Nabi Ilyasa, dan Nabi Isa. Wallahu a’lam.

 

  • Karena Palestina adalah sebagai tempat kelahiran Isa ‘alaihis salam.

Saat Maryam melahirkan Nabi Isa, Allah berfirman :

 

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا

 

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan“.” (QS. Maryam: 23).

Tempat lahirnya Isa ini adalah di Bait lahm (Betlehem). Banyak yang mengakui demikian, termasuk pula orang-orang Nashrani.

Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin menyatakan bahwa pernyataan tempatnya di Bait lahm adalah berita dari Ahli Kitab. Lihat tahqiq Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:218.

Kelahirah Nabi Ya’qub bin Nabi Ishaq…

Kelahiran Nabi Yusuf bin Nabi Ya’qub – Yerussalem…

Kelahiran Nabi Sulaiman bin Nabi Daud – Yerussalaem…

 

  • Karena Palestina adalah tempat bebatuan dan pepohonan akan berkata.

“Wahai muslim! Wahai hamba Allah ! Ini ada Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia!”.

Maka Yahudi-pun akan binasa melalui tangan hamba-hamba Allah yang shalih di bumi Palestina.

 

  • Karena Palestina adalah tempat Ya’juj dan Ma’juj dibinasakan.

Allah berfirman, tentang kedatangan mereka :

 

حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ

 

Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (Al-Anbiya’ : 96)

Adapun tentang asal muasal Ya’juj dan Ma’juj, ada dua keterangan dari para ulama hal ini :

Pertama, mereka berasal dari keturunan Adam, bukan Hawa.

Normalnya manusia terlahir dari perkawinan. Namun Ya’juj dan Ma’juj, mereka adalah manusia yang terlahir tidak melalui perkawinan Adam dan Hawa. Mereka muncul karena Adam mengalami mimpi basah. Kemudian air maninya bercampur dengan tanah. Dari sinilah kemudian Allah ciptakan Ya’juj dan Ma’juj.

Pendapat ini termaktub dalam Al-Wasail Al-Mantsuroh, halaman 116 – 117, atau yang dikenal dengan kitab kumpulan fatwa Imam Nawawi rahimahullah (Fatawa Al-Imam An-Nawawi). Disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, beliau nisbatkan keterangan ini kepada Imam Nawawi rahimahullah. Beliau memberikan keterangan, “Penjelasan ini terdapat dalam fatwanya Muhyid Din Imam Nawawi”. (Fathul Bari, 13/108)

 

Kedua, mereka adalah keturunan Yafits bin Nuh.

Yafits bin Nuh merupakan moyang dari bangsa Turuk. (An-Nihayah fil Fitan wal Malaahim 1/153. Tahqiq : Dr. Thoha Zaini)

Pendapat yang tepat adalah pendapat yang kedua ini, wallahua’lam bis showab.

Karena pendapat pertama tak satupun riwayat shahih yang mendukung keterangan tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah : “Pernyataan yang menjelaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj berasal dari campuran tanah dan air mani Adam, adalah pernyataan yang tidak berdalil. Dan tak ditemukan dalam riwayat dari seorang yang wajib diterima ucapannya (Nabi shallallahu’alaihi wasallam)”. (An-Nihayah fil Fitan wal Malaahim 1/152-153)

Sehingga kesimpulannya, Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia anak keturunan Adam dan Hawa, tepatnya moyang mereka adalah Yafits bin Nuh.

 

  • Karena Palestina adalah tempat Dajjal akan binasa melalui tangan Isa Al-Masih ‘alaihis salam.

Mengenai kisah pembunuhan Dajjal oleh Nabi Isa diterangkan di antaranya dalam dua hadits berikut.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

فَيَبْعَثُ اللَّهُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ كَأَنَّهُ عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ فَيَطْلُبُهُ فَيُهْلِكُهُ ثُمَّ يَمْكُثُ النَّاسُ سَبْعَ سِنِينَ لَيْسَ بَيْنَ اثْنَيْنِ عَدَاوَةٌ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ رِيحًا بَارِدَةً مِنْ قِبَلِ الشَّأْمِ فَلاَ يَبْقَى عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ أَحَدٌ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ أَوْ إِيمَانٍ إِلاَّ قَبَضَتْهُ

 

“Lalu Allah mengutus Isa bin Maryam seperti Urwah bin Mas’ud, ia mencari Dajjal dan membunuhnya. Setelah itu selama tujuh tahun, manusia tinggal dan tidak ada permusuhan di antara dua orang pun. Kemudian Allah mengirim angin sejuk dari arah Syam lalu tidak tersisa seorang yang dihatinya ada kebaikan atau keimanan seberat biji sawi pun yang tersisa kecuali mencabut nyawanya” (HR. Muslim no. 2940)

 

Dalam riwayat Ahmad, dari ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

إِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ وَأَنَا حَىٌّ كَفَيْتُكُمُوهُ وَإِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ بَعْدِى فَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ إِنَّهُ يَخْرُجُ فِى يَهُودِيَّةِ أَصْبَهَانَ حَتَّى يَأْتِىَ الْمَدِينَةَ فَيَنْزِلَ نَاحِيَتَهَا وَلَهَا يَوْمَئِذٍ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَكَانِ فَيَخْرُجَ إِلَيْهِ شِرَارُ أَهْلِهَا حَتَّى الشَّامِ مَدِينَةٍ بِفِلَسْطِينَ بِبَابِ لُدٍّ – وَقَالَ أَبُو دَاوُدَ مَرَّةً حَتَّى يَأْتِىَ فِلَسْطِينَ بَابَ لُدٍّ – فَيَنْزِلَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَيَقْتُلَهُ ثُمَّ يَمْكُثَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ فِى الأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً إِمَاماً عَدْلاً وَحَكَماً مُقْسِطاً

 

“Jika Dajjal telah keluar dan saya masih hidup maka saya akan membela (menjaga) kalian, namun Dajjal keluar sesudahku. Sesungguhnya Rabb kalian ‘azza wajalla tidaklah buta sebelah (bermata satu) dan Dajjal akan keluar di Yahudi Ashbahan hingga ia datang ke Madinah dan turun di tepinya yang mana Madinah pada waktu itu memiliki tujuh pintu. Pada setiap pintu terdapat malaikat yang menjaga, lalu akan keluar (menuju) kepada Dajjal sejelek-jelek penduduk madinah darinya hingga ke Syam tepat di kota palestina di pintu Lud.” Sesekali Abu Daud berkata, “Hingga Dajjal datang (tiba) di Palestina di pintu Lud, lalu Isa ‘alaihis salam turun dan membunuhnya, kemudian Isa ‘alaihis salam tinggal di bumi selama empat puluh tahun dan menjadi imam yang adil dan hakim yang adil.” (HR. Ahmad, 6: 75. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya hasan)

 

 

(Disusun oleh Ahmad Imron bin Muhadi hafidzahumallahu ta’ala dari berbagai sumber)

By Redaksi