Di antara akhlak yang agung diajarkan oleh Nabi Muhammad Sallahu ‘alaihissalam adalah memuliakan orang-orang yang lebih tua daripada kita secara usia
Ada kisah yang menarik terjadi pada zaman Nabi, suatu ketika Abdurrahman bin Sahl dan Muhayyishah ada suatu tugas yang dibebankan kepada mereka berdua di Khaibar
Sepulang dari tugas tersebut, Muhayyishah hanya pulang sendirian, beliau mengabarkan bahwa Abdurrahman bin Sahl telah dibunuh dan dibuang ke sumur
Hubungan antara Abdurrahman bin Sahl dan Muhayyishah adalah om dan keponakan (Bapaknya Abdurrahman sepupuan dengan Muhayyishah).
Muhayyishah menduga kuat bahwa yang membunuh adalah orang-orang Y4Hud1, namun mereka bersumpah bahwa mereka bukan pelakunya.
Intinya mereka ingin melaporkan kejadian tersebut kepada Nabi. Muhayyishah didampingi oleh kakaknya yaitu Huwayyshah
Maka Muhayyishah ingin memulai pembicaraan karena beliau tahu kondisi di Khaibar ketika itu. Lalu Nabi bersabda :
كَبِّرْ كَبِّرْ
”Kakakmu dahulu yang berbicara”
Kata guru kami saat menjelaskan hadits ini, beliau mengatakan : Selama masih ada yang lebih tua daripada kita dalam suatu forum maka persilahkan untuk membuka acara terlebih dahulu, ini adalah adab.
Barulah setelah itu Muhayyishah berbicara tentang kejadian tersebut.
Rasulullah shallallahu alaihi bersabda dalam hadits lain ,
مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ
”Di antara bentuk pemuliaan Allah (kepada kalian) adalah menghormati seorang muslim yang lebih” (tua)(H.R Abu Dawud)
Ini bentuk budi pekerti yang luhur dalam Islam, selayaknya kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari hari
Bagi yang lebih tua hendaknya menyayangi yang muda
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّه
“Bukan termasuk umatku orang yang tidak memuliakan orang yang tua dan menyayangi anak kecil dan mengetahui hak orang yang berilmu”. (H.R Ahmad)
Yang muda menghormati yang tua, yang tua menyayangi (mengayomi) yang muda. Ini adalah ajaran yang luar biasa, agar keduanya jauh sifat sombong dan tetap dalam sikap rendah hati.
Mohon maaf jika sikap kita selama ini masih banyak kesalahan dalam memperlakukan orang-orang yang lebih tua dari kami
Dan juga kami mohon maaf masih belum bisa maksimal dalam mengayomi teman-teman yang lebih muda usianya daripada kami
Semoga menutupi aib aib kami, dan memuliakan kita semua serta memberikan kepada kita akhlak yang luhur.
(✍ Ditulis oleh Ustadz Abu Yusuf Akhmad Ja’far, Lc hafidzahullahu ta’ala)
Hadits yang di maksud adalah :
أنَّ عَبْدَ اللَّهِ بنَ سَهْلٍ ومُحَيِّصَةَ خَرَجا إلى خَيْبَرَ، مِن جَهْدٍ أصابَهُمْ، فَأُخْبِرَ مُحَيِّصَةُ أنَّ عَبْدَ اللَّهِ قُتِلَ وطُرِحَ في فقِيرٍ أوْ عَيْنٍ، فأتى يَهُودَ فقالَ: أنتُمْ واللَّهِ قَتَلْتُمُوهُ، قالوا: ما قَتَلْناهُ واللَّهِ، ثُمَّ أقْبَلَ حتّى قَدِمَ على قَوْمِهِ، فَذَكَرَ لهمْ، وأَقْبَلَ هو وأَخُوه حُوَيِّصَةُ – وهو أكْبَرُ منه – وعَبْدُ الرَّحْمَنِ بنُ سَهْلٍ، فَذَهَبَ لِيَتَكَلَّمَ وهو الذي كانَ بخَيْبَرَ، فقالَ النبيُّ ﷺ لِمُحَيِّصَةَ: كَبِّرْ كَبِّرْ يُرِيدُ السِّنَّ، فَتَكَلَّمَ حُوَيِّصَةُ، ثُمَّ تَكَلَّمَ مُحَيِّصَةُ، فقالَ رَسولُ اللَّهِ ﷺ: إمّا أنْ يَدُوا صاحِبَكُمْ، وإمّا أنْ يُؤْذِنُوا بحَرْبٍ، فَكَتَبَ رَسولُ اللَّهِ ﷺ إليهِم به، فَكُتِبَ ما قَتَلْناهُ، فقالَ رَسولُ اللَّهِ ﷺ لِحُوَيِّصَةَ ومُحَيِّصَةَ وعَبْدِ الرَّحْمَنِ: أتَحْلِفُونَ، وتَسْتَحِقُّونَ دَمَ صاحِبِكُمْ؟، قالوا: لا، قالَ: أفَتَحْلِفُ لَكُمْ يَهُودُ؟، قالوا: لَيْسُوا بمُسْلِمِينَ، فَوَداهُ رَسولُ اللَّهِ ﷺ مِن عِندِهِ مِئَةَ ناقَةٍ حتّى أُدْخِلَتِ الدّارَ، قالَ سَهْلٌ: فَرَكَضَتْنِي مِنْها ناقَةٌ
الراوي: سهل بن أبي حثمة • البخاري، صحيح البخاري (٧١٩٢) • [صحيح] • أخرجه مسلم (١٦٦٩) باختلاف يسير
Bahwasannya Abdullah bin Sahl dan Muhayyishah berangkat ke Khaibar karena sebab kesengsaraan yang menimpa mereka. Lalu seseorang menemui Muhayyishah dan mengabarkan bahwa Abdullah bin Sahl telah dibunuh dan dibuang di samping sumur atau mata air. Muhayyishah kemudian menemui orang-orang Yahudi dan berkata; “Demi Allah, kalianlah yang telah membunuhnya! ” Mereka menjawab; “Demi Allah, kami tidak membunuhnya.” Muhayyishah kemudian pergi mendatangi kaumnya, lantas dia mengabarkan perihal pembunuhan itu kepada mereka. Kemudian ia pergi bersama saudaranya, Huwaishah yang lebih besar darinya, dan Abdurrahman. Muhaiyishah lalu pergi untuk membicarakan hal itu, karena dialah yang di Khaibar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Yang besar, yang besar! ” -maksudnya orang yang umurnya lebih tua-. Akhirnya Huwaishah berbicara dan dibantu oleh Muhaiyishah. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka membayar diat untuk saudara kalian, atau mereka mengumumkan perang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menulis surat kepada mereka tentang persoalan tersebut. Lalu orang-orang Yahudi membalas surat tersebut, “Demi Allah, kami tidak membunuhnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Huwaishah, Muhaiyishah dan Abdurrahman: “Apakah kalian mau bersumpah sehingga kalian berhak atas darah teman kalian, ” Mereka menjawab; “Tidak.” Beliau bertanya: “Apakah orang-orang Yahudi itu saja yang bersumpah untuk kalian?” Mereka menjawab; “Mereka itu bukan orang Islam.” Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membayar diyat dari harta beliau, dan beliau mengirimkan kepada mereka seratus unta sehingga mereka memasukkan ke rumah mereka. Sahl berkata; “Sampai ada seekor unta merah yang menendangku.” Malik berkata; “Al Faqir adalah sumur.”
