Ringkasan Kajian Semangat Belajar Sunnah (SBS) Di Masjid Raudhatul Fattah Gayam Sukoharjo

Pemateri : Ustadz Abdul Adhim, BA hafidzahullahu ta’ala.
Tema : Fiqih Muamalah : Hukum Transfer Hutang.

 

A. Pembukaan

1. Diantara nikmat Allah yang paling besar adalah nikmat iman dan Islam. Dan jika seseorang merealisasikan Islam dan imannya dengan amal shalih maka dia akan dimasukkan kedalam Surga.
Allah berfirman :

إِنَّ ٱللَّهَ يُدْخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ ٱلْأَنْعَٰمُ وَٱلنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal shalih ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad : 12)

 

B. Materi

1. Hukum hutang itu boleh walaupun tidak dalam keadaan terdesak.

2. Hutang itu adalah sebuah tanggungan yang urusannya bukan hanya kepada Allah tapi juga kepada sesama manusia.

3. Meninggal tidak membawa tanggungan hutang memiliki keutamaan.
Diriwayatkan dari Tsauban, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ

“Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: sombong, ghulul (khianat, mencuri harta rampasan perang sebelum dibagikan, korupsi dll), dan hutang, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

4. Bahayanya orang yang meninggal masih punya hutang.

A. Tidak serta merta urusannya selesai. Karena masih ada pengadilan di hadapan Allah ta’ala. Kebaikannya akan dikurangi.
Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

B. Jiwanya itu tergantung. Urusannya masih tergantung, belum jelas dia selamat atau binasa sampai hutangnya selesai.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)

C. Tidak dishalatkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”. Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Iya.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Ada, sebanyak 3 dinar.” Lalu beliau mensholati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata, “Shalatkanlah dia!” Beliau bertanya, “Apakah dia meningalkan sesuatu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka menjawab, “Ada tiga dinar.” Beliau berkata, “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qotadah berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian beliau pun menyolatinya.” (HR. Bukhari no. 2289)

D. Dosa orang yang syahid (selain syirik) diampuni oleh Allah kecuali hutang.
Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim)

E. Dianggap sebagai pencuri di akhirat.
Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)

5. Bagaimana hukum transfer atau memindahkan hutang kepada orang lain??
Ilustrasi : Jika ada si A punya hutang ke si B sedangkan si C juga punya hutang ke si A. Bolehkan hutang si C ke si A itu dipindahkan oleh si A kepada si B??

A. Hawalah atau Hiwalah secara bahasa artinya adalah memindahkan. Secara istilah adalah memindahkan sebuah tanggungan hutang seseorang kepada tanggungan orang lain.

B. Bagaimana hukumnya Hawalah?? Hukumnya boleh.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ﻣَﻄْﻞُ ﺍﻟْﻐَﻨِﻰِّ ﻇُﻠْﻢٌ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃُﺗْﺒِﻊَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻠِﻰٍّ ﻓَﻠْﻴَﺘْﺒَﻊْ ‏

“Penundaan (pembayaran hutang dari) seorang yang kaya adalah sebuah kelaliman, maka jika salah seorang dari kalian dipindahkan kepada seseorang yang kaya (kredibil ; terpercaya ; mampu membayar) maka ikutilah (terimalah).” (HR. Bukhari)

C. Rukun Hawalah :

  • 1). Al Muhil si A ; Orang yang mengalihkan hutang.
  • 2). Al Muhal si B ; Orang yang hutangnya akan dibayar orang lain.
  • 3). Al Muhal ‘alaih si C ; Orang yang dipindahkan hutangnya kepada orang lain.
  • 4). Al Muhal bihi ; Benar-benar saling berkaitan memiliki hutang antara si A, si B dan si C.
  • 5). Ash-shigah / pernyataan yang diketahui ketiga belah pihak.

 

(Diringkas oleh Ahmad Imron bin Muhadi Al Fanghony hafidzahumallahu ta’ala :: Selasa, 7 November 2023 M / 24 Robi’ul Akhir 1445 H)

By Redaksi