: قَالَ العَلَّامَةُ مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحٍ العُثَيْمِيْنَ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى
الحَقُّ مَا وَافَقَ الدَّلِيْلَ مِنْ غَيْرِ الْتِفَاتٍ إِلَى كَثْرَةِ المُقْبِلِيْنَ، أَوْ قِلَّةِ المُعْرِضِيْنَ؛ فَالحَقُّ لَا يُوْزَنُ بِالرِّجَالِ، وَإِنَّمَا يُوْزَنُ الرِّجَالُ بِالحَقِّ، وَمُجَرَّدُ نُفُوْرِ النَّافِرِيْنَ، أَوْ مَحَبَّةُ المُوَافِقِيْنَ لَا يَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ قَوْلٍ أَوْ فَسَادِهِ ، بَلْ كُلُّ قَوْلٍ يَحْتَجُ لَهُ خَلَا قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ يَحْتَجُ بِهِ
(القَوَاعِدُ المُثْلَى : ٨٦)
Berkata Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rohimahullahu ta’ala : “Kebenaran adalah apa yang sesuai dengan dalil (Al qur’an & As sunnah) tanpa melihat banyaknya orang yang menerima ataupun sedikitnya orang yg menolak. Kebenaran itu tidak di timbang dengan banyaknya orang, bahkan oranglah yang harus ditimbang dengan kebenaran. Dan hanya semata-mata adanya orang yang lari atau banyaknya orang yang suka, bukan dalil benar dan rusaknya suatu ucapan. Bahkan setiap ucapan harus di pertimbangkan kecuali ucapan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ucapan beliau yang harus dijadikan timbangan.” (Al Qowaa’idul Mustla : 86)
Ditulis oleh Ahmad Imron bin Muhadi Al Fanghony hafidzahullahu ta’ala
