Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

وَإِذَا جَمَعَ مَعَ الدُّعَاءِ حُضُورَ الْقَلْبِ وَصَادَفَ وَقْتًا مِنْ أَوْقَاتِ الْإِجَابَةِ وَانْكِسَارًا بَيْنَ يَدَيْ الرَّبِّ وَاسْتَقْبَلَ الدَّاعِي الْقِبْلَةَ وَكَانَ عَلَى طَهَارَةٍ وَرَفَعَ يَدَيْهِ إِلَى اللَّهِ وَبَدَأَ بِحَمْدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ ثَنَّى بِالصَّلَاةِ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ دَخَلَ عَلَى اللَّهِ، وَأَلَحَّ عَلَيْهِ فِي الْمَسْأَلَةِ وَتَوَسَّلَ إِلَيْهِ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَتَوْحِيدِهِ وَقَدَّمَ بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِهِ صِدْقُهُ، فَإِنَّ هَذَا الدُّعَاءَ لَا يَكَادُ يُرَدُّ أَبَدًا
(زاد المعاد : 1/12)

“Apabila dalam doa terhimpun hati yang hadir, bertepatan dengan waktu mustajab, hatinya sudah pasrah kepada Allah, orang yang berdoa juga menghadap kiblat, di atas kesucian, mengangkat kedua tangannya, memulai dengan memuji Allah, bershalawat kepada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam, lalu menghadap Allah dan butuh dalam meminta, serta bertawassul kepada-Nya, menunjukkan kejujurannya dalam berdoa, maka doa semacam ini hampir tidak pernah ditolak.” (Zadul Ma’aad 1/12)

 

 

Ditulis oleh Ahmad Imron bin Muhadi Al Fanghony hafidzahullahu ta’ala

By Redaksi