قال العلامة ابن عثيمين رحمه الله تعالى : إنّ ابن آدم له أربعة دور كلها تنتهي بالآخرة
الدار الآولىٰ : في بطن أمه 
الدار الثانية : إذا خرج من بطن أمه إلىٰ دار الدنيا
الدار الثالثة : البرزخ ؛ ما بين موته وقيام الساعة
والدار الرابعة : الدار الآخرة وهي النهاية ، وهي القرار

هذه الدار قال الله تعالىٰ عنها : { نجعلها للذين لا يريدون علوا في الأرض ولا فسادا } ، لا يريدون التعالي علىٰ الحق ، ولا التعالي علىٰ الخلق ، وإنما هم متواضعون ، وإذا نفىٰ الله عنهم إرادة العلو والفساد ، فهو من باب أولىٰ ألا يكون منهم علو ولا فساد ، فهم لا يعلون في الأرض ، ولا يفسدون ، ولا يكون منهم علو ولا فساد ، فهم لا يعلون في الأرض ، ولا يفسدون ، ولا يريدون ذلك ؛ لأن  الناس ينقسمون إلى ثلاثة أقسام
١) – قسم علا وفسد وأفسد، فهذا اجتمع في حقه الإرادة والفعل .
٢) – وقسم لم يرد الفساد ولا العلو فقد انتفى عنه الأمران .
٣) – وقسم ثالث يريد العلو والفساد ولكن لا يقدر عليه .
فهدا الثالث بين الأول والثاني ، لكن عليه الوزر ؛ لأنه أراد السوء ، فالدار الآخرة إنما تكون { للذين لا يريدون علوا في الأرض } ، أي : تعاليا علىٰ الحق أو على الخلق { ولا فسادا والعاقبة للمتقين } 
فإن قال قائل : ما هو الفساد في الأرض ؟ فالجواب أن الفساد في الأرض ليس هدم المنازل ولا إحراق الزروع ، بل الفساد في الأرض بالمعاصي ، كما قال أهل العلم رحمهم الله في قوله تعالىٰ : { ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها } ، أي : لا تعصوا الله ؛ لأن المعاصي سبب للفساد 
قال الله تبارك وتعالىٰ : { ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون } ، فلم يفتح الله عليهم بركات من السماء ولا من الأرض   فالفساد في الأرض يكون بالمعاصي نسأل الله العافية

شرح رياض الصالحين : (٥٣٩/٣))

 

Berkata Syaikh Ibnu Al Utsaimin rohimahullahu ta’ala : “Sesungguhnya anak cucu Adam memiliki empat alam yang seluruhnya akan berakhir di Akhirat. Alam itu adalah :

  • Alam pertama adalah di dalam perut ibunya.
  • Alam kedua adalah ketika keluar dari perut ibunya menuju dunia.
  • Alam ketiga Barzakh alam antara kematian dan tegaknya hari Kiamat.
  • Alam keempat adalah Akhirat dan ini adalah alam terakhir dan alam yang kekal”.

Alam inilah yang Allah sebutkan dalam firman-Nya :

 

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

 

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash : 83)

Mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan atas kebenaran, atas sesama makhluk dan justru mereka adalah orang-orang yang tawadhu’ (merendahkan diri). Jika dalam ayat ini Allah menafikan (meniadakan) dari mereka kesombongan dan kerusakan maka mereka lebih utama untuk tidak berlaku sombong dan merusak. Mereka tidak sombong di muka Bumi ini dan juga tidak merusak dan mereka tidak menginginkan hal itu. Karena manusia terbagi menjadi tiga macam :
1. Manusia yang sombong, rusak dan merusak. Terkumpul padanya keinginan dan perbuatan.
2. Manusia yang tidak menginginkan kesombongan dan perusakan. Dia berhenti pada dua hal ini.
3. Manusia yang menginginkan kesombongan dan perusakan tapi tidak mampu melakukannya.

Jenis manusia yang ketiga ini berada antara jenis yang pertama dan yang kedua, namun dia tetap memiliki dosa karena dia masih menginginkan kejelekan. Sedangkan akhirat diperuntukkan bagi orang yang tidak menginginkan kesombongan baik kesombongan atas kebenaran maupun sesama makhluk dan tidak menginginkan perusakan dan akibat baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.

Jika ada yang bertanya : Kerusakan yang dimaksud di Bumi itu apa?? Jawab : Kerusakan yang dimaksud bukan sekedar penghancuran rumah-rumah atau pembakaran sawah-sawah. Kerusakan yang dimaksud adalah kemaksiatan. Sebagaimana perkataan para ulama saat menafsirkan firman Allah :

 

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

 

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Araf : 56)

Maksudnya adalah : Janganlah kalian bermaksiat kepada Allah karena kemaksiatan adalah sebab utama kerusakan.
Allah berfirman :

 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf : 96)
Allah tidak mau membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan dari bumi (disebabkan kemaksiatan mereka ; mendustakan). Maka kerusakan yang dimaksud di Bumi adalah kemaksiatan. Kita memohon kepada Allah Al’afiah.” (Syarah Riyadush Sholihin : 3/539)

 

 

Ditulis oleh Ahmad Imron bin Muhadi Al Fanghony hafidzahullahu ta’ala

By Redaksi