قَالَ الإِمَامُ ابْنُ القَيِّمِ رَحِمَهُ اللّٰهُ
مِنْ كَمَالِ إِحسَانِ اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يُذِيْقَ عَبْدَهُ مَرَارَةَ الكَسْرِ قَبْلَ حَلَاوَةِ الجَبْرِ، وَيُعَرِّفَهُ قَدْرَ نِعمَتِهِ عَلَيْهِ بِأَنْ يَبتَلِيَهُ بِضِدِّهَا . فَمَا كَسَرَ عَبْدَهُ الـمُؤْمِنَ إِلَّا لِيَجبُرَهُ ، وَلَا مَنَعَهُ إِلَّا لِيُعطِيَهُ ، وَلَا ابْتَلَاهُ إِلَّا لِيُعَافِيَهُ ، وَلَا أَمَاتَهُ إِلَّا لِيُحْيِيَهُ ، وَلَا نَغَّصَ عَلَيْهِ الدُّنيَا إِلَّا لِيُرَغِّبَهُ فِي الآخِرَةِ ، وَلَا ابْتَلَاهُ بِجَفَاءِ النَّاسِ إِلَّا لِيَرُدَّهُ إِلَيْهِ
(مُخْتَصَرُ الصَّوَاعِقِ المُرْسَلَةِ :1/306)
Berkata Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullahu ta’ala : “Termasuk dari kesempurnaan kebaikan Allah adalah membuat hamba-Nya merasakan pahitnya kehancuran sebelum merasakan manisnya kebangkitan dan mengenalkan kadar nikmat-nikmat-Nya sebelum Ia menguji dengan kebalikannya. Tidaklah Allah menguji hamba-Nya dengan kehancuran kecuali untuk menguatkanya, menahan sesuatu baginya kecuali untuk memberikannya, memberinya cobaan kecuali untuk memaafkannya, mematikannya kecuali untuk menghidupkannya, menyempitkan baginya Dunia kecuali agar ia lebih mencintai Akhirat dan tidaklah Allah mengujinya dengan keterasingan dari manusia kecuali agar ia kembali kepada-Nya”. (Mukhtashor Ash-showaa’iqi Al Mursalah : 1/306)
Ditulis oleh Ahmad Imron bin Muhadi Al Fanghony hafidzahullahu ta’ala
