قَالَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ رَحِمَهُ اللّٰهُ : إِذَا كَانَ نَهَارِيْ نَهَارُ سَفِيْهٍ، وَلَيْلِيْ لَيْلُ جَاهِلٍ، فَمَا أَصْنَعُ بِالعِلْمِ الَّذِيْ كَتَبْتُ؟
(أَخْلَاقُ العُلَمَاءِ لِلْآجُرِيْ : ٤٤)

Berkata Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah : “Jika siangku seperti siangnya orang dungu dan malamku seperti malamnya orang bodoh, lalu apa gunanya dari yang telah aku perbuat dengan ilmu yang telah aku tulis?”. (Lihat kitab Akhlaqul Ulama, karya Al Ajurry, hal : 44)

Berkata Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin hafizhahullah: “Ini adalah nasehat yang agung sangat baik bagi para penuntut ilmu untuk memperhatikannya, kebiasaan para ulama salaf rahimahullah adalah bahwa ilmu (yang ada mereka) terlihat di dalam ibadah, akhlak dan hubungan interkasi mereka dengan sesama, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri rahimahullah :

 قَالَ الْحَسَنُ رحمه الله : ” كَانَ الرَّجُلُ إِذَا طَلَبَ الْعِلْمَ لَمْ يَلْبَثْ أَنْ يُرَى ذَلِكَ فِي بَصَرِهِ، وَتَخَشُّعِهِ، وَلِسَانِهِ، وَيَدِهِ، وَصَلَاتِهِ، وَزُهْدِهِ

“Seseorang jika menuntut ilmu maka tidak beberapa lama akan terlihat bekas (ilmu itu) di dalam penglihatan, pakaian, lisan, tangan, shalat dan Zuhudnya.” (HR. Ad Darimi)

 

 

Ditulis oleh Ahmad Imron bin Muhadi Al Fanghony hafidzahullahu ta’ala

By Redaksi